Perjalanan sang Microfone (2)

“Oh, begitu ya pak, wah apakah mereka akan mengajarkan ilmunya kapadaku?”

“Hhhhhmmmmm…bergantung, jawab si Bapak tua.”

“Bergantung bagaimana pak? Ya, jika kamu bisa menyimak apa yang mereka katakan kamu bisa mendapatkan ilmu.”

“Oh, begitu ya??”

“ Tunggu saja mereka sebentar lagi akan menuju kemari. Bapak mendengar kalau mereka akan berdiskusi hari ini, tapi masalah yang didiskusikan kurang tahu.”

Tidak lama kemudian, kreeeekkkk…bunyi gagang pintu dibuka oleh seseorang yang ternyata adalah kakak angkatku yang diikuti oleh teman-temannya. Satu demi satu rekan-rekan kakakku datang mengisi ruangan ini hingga penuh sesak, nampaknya sudah tidak ada lagi Space lagi untuk orang yang akan datang.

Oke, kawan-kawan nampaknya sekarang semua sudah berkumpul di sini. Sebelumnya, saya akan memperkenalkan adik saya sekaligus teman baru kita semua. Mereka semua langsung menatapku dengan tersipu malu saya pun membalas pandangan mereka satu persatu ada yang memperlihatkat wajah ramah, angkuh, murung, marah, dan mimik-mimik muka yang lainnya. Bagaimana orang bisa memperlihatkan wajah seperti itu? Namun aku tidak memperdulikan hal itu karena merupakan kesan pertama ketika bertemu mereka dan belum mengenal lebih jauh.

Setelah perkenalan itu mereka mulai serius membahas tentang persoalan mereka. Di dalam forum itu ada perdebatan, pertanyaan, sanggahan, ada yang setuju dan tidak. Merupakan sebuah hal yang wajar dalam sebuah pebicaraan dan pikiran namun mereka pun pada akhirnya tetap kembali pada Visi dan Misi mereka yang telah dibuat. Waktu yang digunakan pun lumayan lama lebih dari dua jam.

Aku hanya bersandar dan duduk sambil mendengarkan apa yang sedang mereka perbincangan, tak lama kemudian mereka pun menyelesaikan diskusinya. Setelah semua orang membubarkan diri. Sang kakak pun mendekatiku dan menunjukan sebuah ruangan yang nantinya aku gunakan untuk beristirahat.

Kemudian, Ia pun berkata “ kamu nanti beristirahat di sini, ya?”

“Ya, kak” biar aku tidur di sini.”

“ Ya, silakan saja memang ruangan ini di khususkan buat kamu, kok. Tapi maaf kalau kurang nyaman.”

“ Wah, kak segini juga terima kasih saya masih bisa berteduh di sini. “

“ Ya, sudah kakak pergi dulu sebentar, sekarang kamu beristirahat saja. Karena mungkin kamu kelelahan saat tadi di perjalanan.”

“Ya, kak”

Sebenarnya pada saat itu aku tidak merasakan kecapaian, mungkin karena merasakan bahwa hal ini adalah sebuah kesempatan dan merasakan sebagai sesuatu yang baru yang bisa dikatakan baru mencium dunia luar yang sebenarnya sangat luas.

Di sudut ruangan yang tidak begitu besar namun cukup untuk dapat melakukan beberapa kegiatan yang aku inginkan. Namun kali ini hanya cukup termangu di dalam ruangan, setelah melihat sekeliling ruangan, aku akhirnya memutuskan untuk menuju ke jendela -sebuah jendela yang memiliki dua sisi yang bisa terbuka- kemudian mencoba untuk berdiam di jendela yang terbuka. Ketika tatapan sedang melihat jauh ke batas terluar pandangan. Terus menatapi sekeliling sebagian kecil dari jagat raya yang ternyata memang sangat luas. Seiring mataku terjurus ke dalam suatu titik, saat itu juga pikiran melambung jauh. Mengingatkan hal-hal yang berada di belakang sampai pada tempat Ia sedang berada sekarang.

Tak lama kemudian, si bapak tua itu pun mulai kembali masuk ke ruangan. Dari mukanya terlihat kalau dirinya tersebut baru bangun dari tidurnya. Serentak Ia pun bergegas bangun dari sandarannya.

“ Sudah bangun, ya pak ? “

“ Benar sekali, ini buktinya aku sudah bisa berjalan kembali ke tempat ini dan bisa bisa menyapa mu.”

“Kamu sendiri ?”

“Hey, apa yang sedang kamu lakukan di dekat jendela itu ? Bila anginnya kencang bisa sangat berbahaya. Kamu bisa terhempas keluar dari ruangan ini, Cepatlah turun kemari.”

Dengan sedikit gerakan, Ia pun beranjak turun dari jendela itu dan menghampiri si bapak tua tersebut. Duduk di sinilah, bapak ini sudah lama tidak memiliki kawan berbicara bisa dikatakan bertahun-tahun. Tak ada yang bisa aku bicarakan, untunglah mulutku ini tidak kelu. Hanya dengan mengikuti apa-apa saja yang mereka bicarakan kepada orang-orang banyak. Akhirnya, Ia pun banyak membincangkan banyak hal. Tentang dirinya dan hal-hal yang dilakukannya, karena Ia sangat senang sekali dan sangat bersemangat. Sangat berbeda dengan apa yang pertama kali dikenalnya sekarang tampak mukanya berbinar dengan senyuman-senyuman ramah dan tampak kelegaan setelah akhirnya dapat bercerita dan berbicang-bincang.

Dengan melakukan perbincangan tersebut tidak terasa waktu, tiba-tiba saja merasa terkantuk-kantuk rupanya telah larut malam. Aku mencoba untuk menahan kantuk, namun ternyata si bapak tua itu menyadarinya. Akhirnya, si bapak tua itu menghentikan perbicaraannya dan segera menyuruhku untuk tidur.

“ Hey, anak muda rupanya kamu sudah mengantuk, ya ? “

Karena si bapak tua tersebut sedang semangat-semangatnya Ia pun menidakkan ke kantukannya tersebut “ tidak kok, pak” sambil mencoba  untuk memelototkan matanya yang sebenarnya sudah sangat kantuk berat. Si bapak tua itu, melihatnya dengan seksama.

“ Ah… itu sudah terlihat matamu sudah memerah dan menguap terus dari tadi, sudah lebih baik pergi tidur saja sana. Mungkin bisa kita lanjutkan lagi besok.” Iya…pak baiklah selamat malam pak. Ya… selamat malam.”

Sebenarnya aku juga sudah mengantuk anak muda, jadi ada baik kita beristirahat. Ini sudah malam, setelah ketika beberapa langkah menuju tempatnya untuk tidur ia pun terkejutkan dengan tiupan angin yang begitu besar yang datang dari luar, ternyata ia sadar bahwa jendelanya belum kembali dirapatkan dan ia pun menghampiri dan merapatkan jendelannya. Setelah itu, ia bergegas untuk pergi tidur dan memakai selimutnya.

Keesokan harinya, pada saat matahari mulai terbit. Ia terbangunkan oleh hiruk-pikuk orang yang sedang berlalu-lalang. Bunyi prak, prak, sepatu dan orang – orang yang sekadar untuk berbincang-bincang dan oleh cahaya matahari yang merangsak masuk dari sela-sela jendela ruangan tersebut. Saat matanya sudah mulai terbuka Ia langsung beranjak untuk sekadar mendapatkan udara segar dengan membuka jendela ruangan tersebut. Kemudian ia bermaksud akan membangunkan si bapak tua itu, sesegera mungkin Ia akan membangunkannya. Pada saat mendekati tempat bapak tua itu beristirahat, ia terkejut karena bapak tua itu sudah tidak ada di tempatnya lagi “ Ia pun bertanya-tanya, kemanakah bapak tua itu ? kok, sudah tidak ada di tempatnya lagi? Kemana ia pergi ? ”

Kemudian, ia pun berkeliling melihat sekitar ruangan tersebut sambil mencari-cari bapak tua tersebut. Ia pun sambil memanggil-manggilnya sambil mengitari ruangan tersebut setelah berkeliling untuk mengitari ruangan tersebut namun tidak kunjung terlihat. Ah…sudah lah paling juga bapak tua itu sedang pergi ke luar. Ia pun menghentikan pencarian orang tua tersebut, kemudian duduk berdiam di jendela tersebut untuk sekadar menikmati udara segar. Melihat langit yang begitu cerah dan melihat burung-burung yang hilir mudik. Dan sebagian yang sedang bertengger dan melantunkan suara-suara indahnya di ranting-ranting pepohonan yang berada tidak jauh dari tempatnya karena menikmati suasana tersebut spontan mengerak-gerakan badannya.

Saat sedang memerhatikan keadaan sekitarnya itu, ada yang bergerak-gerak diantara himpitan kertas-kertas. Menggeliat-geliat sekujur tubuhnya mencoba untuk keluar dari himpitan kertas tersebut. Sampai pada menggerakan tumpukan yang akhirnya ada beberapa tumpukan kertas yang terjatuh. “Braaaakkkkkk….” tumpukan kertas itu jatuh ke lantai. Beberapa ada yang berserak-serakan. Serentak suara tersebut membuat terkejut anak muda tersebut. Serentak ia pun langsung menoleh ke arah tumpukan kertas-kertas yang terjatuh tersebut. Kemudian pandangannya dialihkan ke tempat jatuhannya tumpukan kertas tersebut.

Ia melihat sesuatu yang dibungkus kotak transparan. Memerhatikannya dengan sangat teliti menyakinkan bahwa dalam kotak tersebut ada sesuatu. Ia pun mulai memfokuskan pandangannya ke arah kotak tersebut, sedikit mengedipkan–ngedipkan matanya dan mengosoknya untuk benar benar menyakinkan dalam kotak transparan tersebut ada sesuatunya ternyata. Sedikit demi sedikit pandangannya mulai jelas. Ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak dalam kotak tersebut untuk menyakinkan dirinya terlihat. Ia terus mengisyaratkan sesuatu menggerak-gerakan seluruh tubuhnya yang terlihat ramping namun anak muda itu tampak terbengong-bengong tidak mengerti apa yang sedang diisyaratkan oleh sesuatu yang berada dalam kota itu. Ia mencoba untuk melafalkan sesuatu, dan terus menggerakan sekujur tubuhnya namun tetap saja tidak dapat dimengerti. Kemudian, ia pun mulai terhenti sejenak berdiam tampak memikirkan sesuatu cara yang bisa dimengerti oleh sesorang yang berada di luar kotak tersebut. Ia pun mendapatkan idenya untuk melakukan sesautu yang bisa dimengertinya, sesegera mungkin ia menghembuskan nafasnya ke arah kotak transparan tersebut kemudian menuliskan sesuatu yang meminta bantuan untuk mengeluarkannya dari kotak transparan tersebut.

Anak muda tersebut mulai mengerti, namun dari tempatnya yang tinggi tersebut karena berada di ujung rak tersebut. Ia pun mulai berlari kemudian meloncat ke rak tujuh susun tersebut tepat berada di bagian ke tiga susunan raknya itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai rak paling teratas untuk dapat menghampirinya. Saat mencoba untuk menaikinya, diantara susunan kertas-kertas yang tidak rata pun mulai terjatuh hampir saja tidak mendapatkan pijakan beberapa kali dirinya hampir terjatuh bersamaan dengan tumpukan kertas tersebut. Setelah bersusah payah untuk dapat menghindarinya, Ia pun sampai ke rak terahir dan jaraknya sudah dekat dengan kotak transparan tersebut. sambil terengah-engah Ia pun sampai ke dekat kotak tersebut. Setelah tepat berada di hadapan kotak tersebut Ia berusaha sekuat tenaga untuk dapat menariknya dari himpitan kertas tersebut. Beberapa kali tarikan tidak dapat melepaskannya dari himpitan kertas tersebut setelah mengeluarkan seluruh tenaganya. Ia dapat menarik keluar kotak tersebut namun keduanya terpelating jatuh ke dasar rak tersebut. Whhooooooaaaaaaaa… mereka berdua pun serentak berteriak….buruuukkkk  keduanya jatuh tepat di antara tumpukan kertas yang terjatuh. Kotak tersebut terpental ke sisi lain lantai dan tidak sengaja terbuka.  “ Wooooohhhhooooo” akhirnya aku bisa keluar dari kotak ini. Ia pun berjingkrak kegirangan, berloncatan-loncatan di antara busa penahan kotak tersebut. Sesekali menjatuhkan dirinya yang kemudian terpental kembali ke atas. Sambil terus berteriak teriak kegirangan merayakan kebebasannya sendiri. Setelah beberapa saat, Ia pun mulai melihat ke arah sesuatu yang telah menolongnya. Ia masih terlihat tergeletak diantara tumpukan kertas tersebut.

“ Hey… apakah kamu tidak apa-apa ? ”

Sambil menggerakan-gerakan badan yang sedang tergeletak tersebut. “ Heyyy…. Ayo lah, apakah kamu tidak apa-apa ? “  Ayolah bangun, kemudian ia pun mencari-cari sesuatu yang bisa membangunkanya, Ia pun medapatkan secuil kertas menggulungnya kemudian mengorek-ngorekannya. “Bbbbbbbbbbbbrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr”, kemudian sedikit demi sedikit ia pun membuka matanya “haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” melihat sosoknya masing-masing. Mereka terperanjat, menutup mukannya dengan kedua telapak tangan. Sambil berkata-kata “ Hey… siapakah kamu ini ? ” apakah aku sudah berada di alam lain ? ” Ohh…tidaaaaakkk ”.

Kamu kira aku ini berasal dari mana? “ Ini aku yang berada di dalam kotak tersebut, ayolah tak ada yang perlu ditakutkan yang ada aku ingin berterimakasih kepadamu karena telah menolongku untuk keluar dari kotak transparan itu. Benarkah itu ? ya, memang benar aku ini yang berasal dari kotak itu. “ Ooohh… begitu ya ? “ Hmmmppp…aku kira aku sudah berada di…. “ sudahlah tak usah diteruskan. Yang penting kamu itu masih berada di sini coba saja lihat disekeliling mu ini. Benarkan ? ” dan aku sangat berterima kasih karena telah menolongku ya. Huuhh….akhirnya setelah sekian lama aku berada di tempat itu. Terhimpit, diantara kotak trasparan dan kertas-kertas tersebut. “ Hey… udaranya segar sekali di sini. Mungkin karena aku terlalu lama berada di dalam kotak itu.”

“ Ya, memang seperti itu, aku pun sedang menikmatinya tadi.”

“ Lalu, bagaimana kamu bisa berada dalam kotak itu ? “

“ Berada dalam kotak itu? Tidak tahukan kamu, berada dalam kotak itu. Ah…sudahlah tak perlu dibicarakan yang terpenting adalah ketika aku sekarang ini sudah bisa menghirup kembali udara segar ini. Sekarang aku hanya ingin menikmatinya saja dulu, ok ? Sebentar saja setidaknya sampai burung-burung yang berkicauan itu telah berhenti mendendangkan nyanyian-nyanyiannya untuk hari ini. “ Wohhooo….memejamkan mata, kemudian hirup udaranya setelah itu keluarkan. “ Uuhhhhhh… sungguh nikmatnya. “ Hey… dari pada termangu di situ cobalah kemari ayo… kemari “ kemudian ia pun mendekat kepadanya. “ Ok… ikuti aba-aba ku, ya… pejamkan mata, lalu hirup udaranya dengan hidung tahan sejenak…lalu keluarkan dari mulut. Benarkan ? “ Kamu bisa rasakan bagaimana nikmatnya masih bisa menghirup udara segar, bukan ? “

Ya, memang benar terasa sangat segar sekali. Sangat segar, luar biasa mendapatkan kesempatan menghirup udara segar ini. Oh…ya, aku tetap ingin tahu mengapa kamu bisa berada dalam kotak transparan tersebut. “Hahhaha…ternyata kamu masih menanyakan hal yang itu juga.”

Belum juga sempat menceritakannya, tiba-tiba saja tersengar suara bunyi langkah kaki yang menuju ke ruangan tersebut. Berdiam sejenak dan bergegas untuk kembali tempatnya. dan hanya melihat dari sekat-sekat dibalik sebuah meja. Berjalan kearah pojokan menyimpan kembali bapak tua. Kemudian, ketika akan kembali ke luar langkahnya terhenti melihat tumpukan kertas yang berserakan dilantainya. Dengan terheran-heran, kemudian ia membereskan tumpukkan kertas itu kembali ke raknya, kemudian menutup jendelanya, pikirnya angin kencanglah yang membuatnya berhamburan ke lantai. Setelah itu, langkah kakinya menuju ke luar ruangan dan menutup pintu ruangan tersebut rapat-rapat.

Si bapak tua itu pun, mulai bergerak gerak menyandarkan dirinya di rak sambil mengibas-ngibaskan kertas ke tubuhnya yang mulai kepanasan dan keduanya yang sedang bersembunyi di antara sekat-sekat pun mulai keluar. Menghampiri dan menyapa si pak tua itu. “ Siang pak, sudah dari pagi buta bapak sudah tidak ada di tempat. Tidak aku temukan di sekeliling ruangan ini.”

“ Awalnya bapak pun tidak tahu, kaget dan terperanjat ketika tiba-tiba ada seseorang yang memangku bapak pada saat sedang tidur. Rupanya ada pekerjaan dadakan yang harus dikerjakan. Bapak pun tidak diberitahunya. Barulah pada saat di pangku, orang itu berkata ini dadakan, pak. Maaf saya tidak membangunkan dan memberitahukan kepada bapak sebelumnya. Kira-kira seperti itu yang saya dengar dari mulutnya. Seperti biasanya, menjalankan tugas ikut serta berbondong-bondong naik ke atas bak terbuka. Ketika berjalan beberapa meter saja, hawa dingin sudah membuat merinding sekujur tubuhku, entahlah dengan mereka. Untunglah, ada diantara mereka yang memberikanku selimut hangat. Biar tak berembun, katanya. 5 jam aku mengikuti mereka berkeliling, mengeluarkan seluruh tenaga buat berkoar-koar. Mengikuti apa yang mereka katakan, dari yang mulai berteriak-teriak, menjerit, memohon, sampai nyerocos yang sepertinya tidak ada tanda perhentian. Banyangkan saja, 5 jam tanpa henti dan beberapa kali dipindah tangankan.

“ Apakah yang mereka katakan tersebut selalu didengarkannya ? “

“ Barangkali, mereka mendengarkannya, barangkali mereka menutup telinga, banyak sekali alasan yang bisa mereka lontarkan.” Kadang pula ada yang sampai gontok-gontokan dengan pagar hidup yang kadang berujung dengan adegan-adegan yang menegangkan. Hingga lebih riuh dan ramai dengan kepulan asap, sampai bagian keras yang bersatu dengan tanah pun bisa melayang-layang di udara. Tapi itulah yang sebenarnya tidak aku inginkan, cukuplah penyok di belakang bokongku ini saja. Sambil memperlihatkan kepada keduanya. Kalau sudah ada asap yang bisa membuat air mata menetes, perih, barulah mereka pergi membubarkan diri. Tak tahu apa yang sebenarnya mereka dapatkan, setelah itu.”

Mungkin saja yang mereka dapatkan beberapa bungkusan makanan yang bisa mereka peroleh untuk sekadar mengganjal perut mereka yang telah terkuras energinya, makan mereka pun lahap benar. Aku pun hanya dapat melihatnya dari kejauhan memerhatikan mereka yang sedang asyik melahap nasi bungkusnya tersebut sambil menghindar dari sengatan matahari di bawah pepohonan.

Selebihnya, mereka pun mulai membubarkan diri, aku hanya menunggu saja dengan selimut hangat yang mereka pakaikan kepada ku. Ketika senja mulai tiba dan aktivitas disekitar sudah mulai senyap aku dibantu oleh dua orang anak muda yang biasa mengajakku, dihimpit dan menggandengku untuk menuju ke tempat ini. Peluhku yang mulai bercucuran mereka seka dengan lap yang telah mereka sediakan mungkin itulah sebagai tanda terima kasih mereka kepadaku tapi aku tetap senang, karena biar pun mereka sangat sibuk masih bisa tetap menjangkau walau hanya dengan perlakukan seperti itu.

[…]

Bacaan terkait :

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s