Sahur Perdana Yang Terlewatkan.

Hari pertama puasa adalah hari yang sangat membutuhkan adaptasi. Bagaimana bisa dikatakan sebagai adaptasi? Karena orang yang biasa 5.30 Wib atau 05.00 Wib di hari biasa, pada bulan ramadhan kita mesti bangun lebih pagi lagi kira-kira Pukul 03.00 atau pukul 03.30 Wib.
Di mulai pada malam yang penuh dengan suka cita karena akan menghadapi bulan ramadhan, dengan tidak begitu menyiapkan apa-apa, setelah habis terawih pertama pastilah kita membacakan niat berpuasa besok bersama-sama. Tak hanya saya orang lain pun berantusias untuk menghadapi puasa pertama di tahun ini.
Sepulang solat terawih pertama, mulailah berfikir untuk menyiapkan strategi bagaimana caranya untuk besok agar bangun benar-benar pagi untuk bisa menyempatkan waktu sahur perdana. Mulai dari tidur lebih cepat, hingga memansang beberapa alarm di ponsel yang di atur pada waktu 03.00 dan 03.30 wib. Sampai berniat untuk nge-sms teman buat nelpon pada waktu sahur, tapi strategi ini tak dilakukan berhubung strategi yang dua tadi sudah dianggap mempuni untuk membangunkan ku untuk makan sahur.
Hal ini benar-benar dilakukan karena sudah mulai dengan kebiasaan baru yaitu sahur. Waktu pun menunjukkan pukul 21.00 Wib, langsung saja tarik selimut buat pergi tidur, tapi dirasa masih ada yang kurang. Oh ya, mulai teringat ponsel terlihat jauh dari telinga, dengan cepat menyimpannya dekat-dekat biar pada saat alarm berbunyi langsung terdengar dengan jelas dan bisa terbangun tepat pada waktunya.
Doa pun dipanjatkan dan pergi untuk tidur, malam itu tidur sangat pulas karena tadi siang telah banyak melakukan aktivitas. Waktu pun berlalu detik, menit, sampai hitungan jam yang akhirnya pada waktu yang telah diset pada ponsel pun berbunyi dengan suara yang gaduh.
Sepertinya telinga memang bereaksi lebih cepat, pada saat terdengar suara alarm itu. Sayangnya, mata sepertinya berat untuk terbuka. Di sini gerak reflek pun mengambil kendali, dengan cekatan menyambar ponsel tersebut dengan mata yang sedikit terbuka pandangan tertuju pada tombol untuk mematikan suara alarm yang bedering keras. Pada saat itu, antusias untuk makan sahur tampaknya luluh lantah dan melanjutkan tidur.
Semangat untuk makan sahur pun sepertinya kembali bergejolak, mata pun segera terbelalak dan menggerakan kaki keluar kamar tidur. Anehnya, kenapa ruang makan masih terlihat sepi? Apakah aku yang bangun duluan atau apakah sahur perdana telah terlewatkan? Sekejap meraba-raba dinding untuk menyalakan lampu, lalu melihat jam dinding di ruangan itu. Pada saat telah menyala, sesegera mungkin untuk menoleh ke arah jam ding-ding, ternyata oh ternyata waktu telah menunjukkan pukul 05.15 wib.
Oh, sahur perdana yang terlewatkan. Tapi semangat masih terus berkobar, biar tanpa sahur lanjutkan saja berpuasa. “Biar sahur perdana terlewatkan tapi masih ada buka perdana, mudah-mudahan hal ini tak terjadi di waktu yang akan datang.” dalam hatiku sambil mengobati rasa sesal telah melewatkan sahur perdana itu.

Tinggalkan komentar

Filed under Curat-Coret saja...., Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s