Perjalanan Sang Microfone (2)

“Oh, begitu ya pak, wah apakah mereka akan mengajarkan ilmunya kapadaku?”

“Hhhhhmmmmm…bergantung, jawab si Bapak tua.”

“Bergantung bagaimana pak? Ya, jika kamu bisa menyimak apa yang mereka katakan kamu bisa mendapatkan ilmu.”

“Oh, begitu ya??”

“ Tunggu saja mereka sebentar lagi akan menuju kemari. Bapak mendengar kalau mereka akan berdiskusi hari ini, tapi masalah yang didiskusikan kurang tahu.”

Tidak lama kemudian, kreeeekkkk…bunyi gagang pintu dibuka oleh seseorang yang ternyata adalah kakak angkatku yang diikuti oleh teman-temannya. Satu demi satu rekan-rekan kakakku datang mengisi ruangan ini hingga penuh sesak, nampaknya sudah tidak ada lagi Space lagi untuk orang yang akan datang.

Oke, kawan-kawan nampaknya sekarang semua sudah berkumpul di sini. Sebelumnya, saya akan memperkenalkan adik saya sekaligus teman baru kita semua. Mereka semua langsung menatapku dengan tersipu malu saya pun membalas pandangan mereka satu persatu ada yang memperlihatkat wajah ramah, angkuh, murung, marah, dan mimik-mimik muka yang lainnya. Bagaimana orang bisa memperlihatkan wajah seperti itu? Namun aku tidak memperdulikan hal itu karena merupakan kesan pertama ketika bertemu mereka dan belum mengenal lebih jauh.

Bacaan selengkapnya […]

Bacaan terkait :

Perjalanan Sang Microfone

Tinggalkan komentar

Filed under Curat-Coret saja....

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s